Ketika
Shobat sedang ada pelajaran, apa yang biasanya Shobat lakukan? Shobat tidak
perlu menjawab, Kamus sudah tahu kok. Pasti yang Shobat lakukan adalah
menghiraukannya ada juga yang menyimaknya. Apalagi jika akan menghiraukannya
ada lagi dengan cara bergaduh atau mengolok-olok guru yang sedang menjelaskan
materi.
Di
zaman kini tak sedikit orang pandai. Namun, banyak yang lupa. Seolah-olah
kepandaian dan kekayaan ilmunya menjadi dengan sendirinya tanpa tersentuh dan
doa dari para guru yang pernah mengajari mereka dengan ikhlas.
Islam
sangat menganjurkan agar umatnya menghormati para ulama dan guru-guru mereka.
Dalam kitab Ta’lim Muta’allim dijelaskan cara menghormati guru,
diantaranya: tidak boleh berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat yang
diduduki gurunya, dan bila di hadapan gurunya tidak boleh memulai pembicaraan
kecuali atas izinnya. Murid mestilah mendapatkan ridha dari gurunya.
Rasulullah
SAW bersabda: “Siapa yang bersikap tawadhu’ semata-mata karena Allah, Allah
akan meninggikan derajatnya meskipun ia merasa dirinya kecil, tetapi di mata
manusia ia begitu besar. Dan siapa yang bersikap takabbur, maka Allah akan
merendahkannya. Ia dalam pandangan manusia begitu kecil, meskipun ia merasa
dirinya besar. Hingga ia lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR.
Al-Baihaqi).
Pada
hadist diatas Rasulullah SAW mengatakan bahwa Allah SWT akan meninggikan orang
yang tawadhu’ dan merendahkan orang yang sombong. Bahkan kerendahannya melebihi
anjing dan babi. Sebuah peringatan keras yang menunjukkan betapa sikap tawadhu’
harus dilakukan, karena orang yang tidak tawadhu’ pasti ia merasa sombong.
Inilah yang direndahkan derajatnya oleh Allah. Shobat tidak mau kan derajatnya
direndahkan oleh Allah?
Tawadhu’
adalah sifat yang amat mulia. Namun, sedikit orang yang memilikinya. Ketika
orang sudah memiliki gelar yang mentereng dan berilmu tinggi serta memiliki
harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati alias tawadhu’.
Tawadhu’
juga bermakna patuh terhadap kebenaran, menerima nasihat dari siapapun
datangnya. Baik dalam keadaan suka, murka, dan duka. Padahal kita seharusnya
seperti ilmu padi, yaitu “Kian berisi, kian merunduk”. Apalagi jika siswa yang
memiliki prestasi atau tergolong siswa yang aktif akan rasa tawadhu’ terhadap
guru sudah musnah.
Tawadhu’
adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang
sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sifat sombong dan
melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat dirti terlalu tinggi hingga lebih
dari yang semestinya. Sedengkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan
diri terlali rendah sehingga sampai pada pelecehan hak. Tawadhu’ adalah
menampakkan diri lebih rendah dari pada orang lain yang ingin mengagungkannya.
Ada pula yang mengatakan bahwa Tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih
mulia dari pada dirinya.
Namun,
mengapa saat ini anyak siswa yang menghilangkan sifat Tawadhu’? mungkin
perlakuan para siswa terhadap guru saat ini banyak yang melenceng. Itu dampak
dari menonton acara yang tidak mengandung unsur pengetahuan tetapi mengandung
unsur yang tidak patut ditiru oleh pelajar.
Ilmu
tidak akan bisa diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi tawadu’ si murid
terhadap gurunya shobat, karena keridhohan guru terhadap murid akan membantu
proses penyerapan ilmu. Tawadhu’ murid terhadap guru merupakan cermin
ketinggian kemulyaan si murid. Tunduknya kepada guru justru merupakan izzah dan
kehormatan baginya.
Sering
kali para murid menganggap guru sebagai teman, ya memang peranan guru sebagai
komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat, motivator sebagai pemberi
inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikapm dan tingkah laku
serta nilai-nilai, dan sebagai orang yang menguasai bahan yang diajarkan
shobat. Tetapi seringkali para murid menganggap seorang guru itu seperti teman
biasa tidak ada rasa patuh sama sekali.
Hilangnya
perilaku ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan pengaruh TV. Anak zaman
sekarang mudah terpengaruh sama teman sebayanya ataupun tayangan yang tidak
mendidik.
Nah,
agar kita tidak terjerumus pada hal ini maka ikutilah kiat-kiat berikut
1.Berfikirlah
dari apa kita diciptakan
Jika seorang
musim bisa mengukur diri, dan menyadari siapa dirinya dia akan menilai bahwa
dirinya adalah insan yang rendah dan hina karena manusia bila dilihat dari asal
penciptaa berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran air kencing,
kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi insan.
Hindari segala sesuatu yang mendekatkan kita
pada hal yang mendekatkan kita pada hal yang jelek. Setidaknya kita diam dan
tidak menanggapi hal yang tidak jelas.
3.Menjaga
perasaan guru
Selalu jaga sikap dan perkataan saat dengan
guru, karena jika hati seorang guru tersakiti. Maka pada saat proses belajar
mengajar, guru tersebut akan memiliki rasa tidak ikhlas dalam menyampaikan
ilmunya pada kalian shobat.
Nah,itu tadi merupakan penjelasan
tentang hilangnya tawadhu’pada guru. Bergaullah dengan yang baik dengan siapa
saja dan jauhkan diri dari sifat sombong dihadapan hamba allah yang lain.
Okey, sekian
dulu ya shob, pembahasan kamus mengenai hilangnya tawadhu’. Kamus akhiri ya...Wassalam...
SEMOGA BERMANFAAT
HARAP TINGGALKAN KOMEN

Sampean super sekali :D
BalasHapusDatang sini nduk. blog baru
BalasHapus